PT Mayawana Persada Raih Tribun Pontianak Awards 2026
PUNCAK perhelatan akbar Tribun Pontianak Awards (TPA) 2026 yang berlangsung di Hotel Novotel Pontianak, Rabu (26/8/2026), menjadi ajang apresiasi kolektif bagi instansi pemerintah dan swasta yang terbukti menggerakkan kemajuan daerah. (Disarikan dari Tribun Pontianak edisi Senin, 31 Agustus 2025, halaman 35)
TRIBUN PONTIANAK AWARDS 2026
Kategori: Pengelolaan Hutan Lestari dan Konservasi Orangutan
Penerima: PT Mayawana Persada
Di antara jajaran korporasi strategis yang mendapat sorotan, PT Mayawana Persada, perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), turut berpartisipasi dalam perayaan HUT ke-18 Tribun Pontianak tersebut.
Lewat Kategori "Pengelolaan Hutan Lestari dan Konservasi Orang Utan," perusahaan ini sukses menorehkan pencapaian yang membangkitkan optimisme pembangunan regional di Kalimantan Barat.
Direktur PT Mayawana Persada, Iwan Budiman, yang hadir langsung menyampaikan apresiasi mendalam dan menegaskan komitmen dasar perusahaan langsung dari atas panggung utama.
"Terima kasih pada Tribun Pontianak telah memberikan penghargaan kepada kami, selaku sektor swasta, komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi maksimal kedepannya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, masyarakat sekitar, dan lingkungan di lokasi usaha kami. Penghargaan ini menjadi spirit baru bagi kami, untuk tetap memberikan terbaik dan kontribusi yang objektif bagi pembangunan daerah Kalimantan Barat," ujar Iwan Budiman di hadapan para kepala daerah dan pimpinan pemangku kepentingan se-Kalimantan Barat.
Pernyataan tersebut menjadi penanda arah visi korporasi dalam menjawab tantangan industri kehutanan modern ke depan.
Dalam lanskap industri kehutanan saat ini, tuntutan global mendesak terjadinya pergeseran paradigma dari model ekstraktif konvensional menuju kerangka kerja ekologis yang berlandaskan sains.
Manajemen PT Mayawana Persada menegaskan bahwa perusahaan secara konsisten mengintegrasikan ilmu silvikultur mutakhir dengan mitigasi perubahan iklim berbasis lanskap.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap siklus produksi tanaman industri berjalan selaras dengan prinsip perlindungan lingkungan secara berkelanjutan. Lebih jauh, manajemen menambahkan bahwa objektivitas kontribusi industri HTI di masa depan harus diukur melalui indikator ketahanan ekosistem jangka panjang.
"Dalam ekosistem ekonomi modern, batas antara produktivitas korporasi dan konservasi ekologis tidak boleh dipisahkan. Visi kami kedepan adalah menerapkan model silvikultur dan mitigasi karbon berbasis data. Kami ingin membuktikan bahwa HTI dapat berfungsi ganda: sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi regional sekaligus keberlangsungan lingkungan bagi masa depan Kalimantan Barat," jelas Iwan, saat diwawancarai di sela perhelatan.
Melalui pendekatan berbasis data ini, PT Mayawana Persada bertekad menerjemahkan momentum TPA 2026 untuk merawat keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi makro dan integritas ekologis.
Menghadirkan Multiplier Effect bagi Masyarakat Tapak
Dalam pandangan manajemen, ukuran keberhasilan korporasi modern tidak lagi berhenti pada angka pertumbuhan finansial semata.
Keberhasilan diukur dari sejauh mana perusahaan mampu menghadirkan dampak berganda (multiplier effect) serta membangun ketahanan hidup bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional. Refleksi sosiologis ini mengemuka sepanjang rangkaian perhelatan TPA 2026 yang mempertemukan para pengambil kebijakan dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Kehadiran PT Mayawana Persada dalam panggung penganugerahan tersebut sekaligus menegaskan peran vital korporasi sebagai agen perubahan sosial di tingkat tapak.
Iwan Budiman menekankan pentingnya membangun kemitraan strategis yang berakar pada tanggung jawab nyata terhadap pemenuhan kesejahteraan masyarakat lokal.
Menurutnya, ketahanan regional Kalimantan Barat tidak akan pernah terwujud tanpa adanya distribusi kemakmuran yang adil dan penguatan kapasitas masyarakat (community resilience). Oleh karena itu, PT Mayawana Persada secara aktif menyusun model kemitraan yang menempatkan pembangunan daerah sebagai fokus prioritas operasional.
"Pembangunan ekonomi yang tangguh di tingkat regional tidak akan pernah tercapai tanpa adanya transfer kapasitas sosial dan ekonomi yang adil di tingkat tapak. Di mana korporasi, masyarakat, dan pemerintah daerah merajut ekosistem yang kolaboratif. Kami berharap operasional kami menjadi simpul kemakmuran yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang di Kalimantan Barat," papar Iwan, saat diwawancarai usai perhelatan.
Beri Dampak Nyata
PT Mayawana Persada sebelumnya telah mengantongi sertifikasi penting yaitu PHL, IFCC, SMK3, ISO 14001:2015, dan PROPER.
PT Mayawana Persada (MWP) merupakan perusahaan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan izin dari Kementerian Kehutanan dengan luas area 138.240,4 hektare. Areal PT MWP terletak di Kabupaten Ketapang yang meliputi dua kecamatan dan Kabupaten Kayong Utara mencakup tiga kecamatan.
Dari luasan konsesi PT MWP tersebut, tidak semua dimanfaatkan untuk produksi, tapi juga untuk kepentingan lainnya. Salah satu pemanfaatan areal yang terpenting adalah areal konservasi. Perhitungan awal total areal konservasi indikatif PT MWP seluas 38.987,68 hektare.
Tujuan paling utama pemanfaatan areal konservasi tersebut untuk melindungi keberadaan habitat Orangutan, flora danfauna lainnya. Menurut hasil monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan tim survey Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura Pontianak, kehidupan Orangutan di areal konservasi PT MWP terjaga dan berkembang dengan sangat baik.
"Hal itu dibuktikan dengan hasil rekaman camera trap yang dipasang pada titik-titik tertentu di areal yang disurvey," kata Iwan Budiman. Camera trap bahkan ada merekam satu keluarga Orangutan yang terdiri dari jantan dan betina dewasa dengan anaknya. "Hasil rekaman tersebut sangat luar biasa, karena jarang ditemukan atau terekam kamera," kata Iwan.
Selanjutnya hasil kajian Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura Pontianak, juga mengusulkan mengoptimalkan HCS dengan total luas indikatif 42.509 hektare atau 30% dari total konsesi untuk Peta Integrated Conservation and Land Use Plan, sesuai standar HCSA.
Selain itu, Iwan Budiman menjelaskan, PT MWP memiliki Nursery atau pusat pembibitan yang tercanggih dan terbesar di Kalimantan Barat dengan produksi bibit siap tanam 44,5 Juta/tahun.
Dalam proses produksi bibit, PT MWP sudah menerapkan teknologi lebih maju. Tidak lagi memulai dari biji benih, tapi sudah menggunakan metode cutting, sehingga mampu menghasilkan bibit yang lebih bagus, diantaranya akar kuat, pertumbuhan cepat dan batang pohon bisa lebih tinggi.
Di sisi kemasyarakatan, PT MWP memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar konsesi melalui CSR serta CD (Community Development). Program CSR mencakup bidang Kesehatan, Pendidikan, dan keagamaan. Misalnya PT MWP memberikan insentif bagi guru honorer, beasiswa, dan menyumbangkan mobil ambulance untuk lima desa di sekitar areal operasional perusahaan.
Sedangkan untuk program CD, PT MWP melakukan penguatan ekonomi lokal dan harmoni sosial, seperti pelatihan peternakan ayam broiler serta Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yaitu madu. "Kami sekarang sudah menghasilkan produk madu kemasan botol yang kami beri nama Madu Maya," kata Iwan. (*)