ESGCSR & Komunitas

Membangun Kepercayaan melalui Penanganan Aduan yang Terbuka

Bersama masyarakat

PT Mayawana Persada mengelola mekanisme aduan 24/7, penanganan darurat jalan, hingga resolusi klaim lahan bersama tokoh adat dan kepala desa.

Ditemani deru mesin dan pekatnya debu jalan perkebunan, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel tim lapangan: sebuah truk warga terperosok di akses jalan utama desa. Tanpa menunggu proses pengurusan administrasi, alat berat kontraktor terdekat langsung dikerahkan dalam hitungan jam. Bagi warga desa, di sinilah rasa percaya itu bermula. Bukan dari janji manis yang terlontar dari bibir, melainkan dari kepastian bahwa ada pihak yang siap mendengar dan langsung bertindak.

Kesiapan merespons ini menjadi fondasi PT Mayawana Persada dalam mengelola hubungan sosial di sekitar wilayah konsesi. Melalui saluran aduan yang dibuka 24 jam penuh, mulai dari tatap muka di kantor, sambungan telepon, pesan WhatsApp, hingga perantara kepala desa, perusahaan memastikan setiap aspirasi warga ditampung dan diverifikasi secara rasional.


Responsif di Lapangan, Terukur dalam Prosedur

Sustainability Head PT Mayawana Persada, Cecep Mutakin, menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan adalah dua hal yang berjalan beriringan dalam merespons aduan. Untuk kondisi darurat yang membutuhkan penanganan fisik cepat, semisal perbaikan jalan atau bantuan evakuasi kendaraan, tim lapangan langsung berkoordinasi dengan kontraktor terdekat.


Namun, untuk aduan yang membutuhkan verifikasi teknis dan persetujuan internal, proses penanganan umumnya membutuhkan waktu 24 hingga 72 jam. "Setiap laporan yang masuk dengan identitas jelas pasti kami respons. Kami mengukur tingkat kerusakan, melakukan survei lapangan, dan menghitung kebutuhan pekerjaan agar keputusan yang diambil bertumpu pada data aktual, bukan dugaan," terang Cecep.


Berdialog dengan warga



Menyelesaikan Klaim Lahan Lewat Ruang Dialog

Di antara berbagai aspirasi yang masuk, dinamika klaim lahan menjadi salah satu isu sensitif yang kerap mengemuka. Menurut Cecep, perselisihan ini sering kali bukan dipicu oleh sengketa baru, melainkan akibat terputusnya informasi saat terjadi pergantian generasi atau kepemimpinan di tingkat desa.


Menghadapi hal ini, perusahaan memilih pendekatan dialogis dengan menggelar hearing bersama kepala desa, tokoh masyarakat, dan lembaga adat. Dokumen legalitas perusahaan dipadukan dengan kearifan lokal tokoh adat untuk menyamakan persepsi secara transparan.


Wood Supply Head PT Mayawana Persada, Willieano Satya Darma, menceritakan bagaimana pendekatan sosial yang konsisten ini perlahan mencairkan rasa canggung antara warga dan tim perusahaan di masa-masa awal operasional.


"Sesuai pepatah 'tak kenal maka tak sayang', kini warga tidak lagi canggung menyapa tim kami di jalan atau mengundang mampir ke rumah mereka. Hubungan yang akrab ini membuat setiap potensi masalah bisa didiskusikan sejak dini sebelum menjadi konflik besar," ungkap Willie.


Pada akhirnya, aduan warga bukanlah gangguan bagi operasional perusahaan. Itu adalah tanda bahwa masyarakat masih percaya dan mau berbicara. Dengan terus menjaga ruang dialog tetap terbuka dan hadir saat warga membutuhkan, PT Mayawana Persada memilih untuk tumbuh bersama masyarakat. Bukan hanya sebagai tetangga di sekitar hutan, tapi sebagai keluarga yang saling menjaga.


FAQ

Bagaimana PT Mayawana Persada mengelola aduan masyarakat dan klaim lahan?

PT Mayawana Persada membuka saluran pengaduan 24/7 melalui kantor, telepon, WhatsApp, dan kepala desa. Penanganan aduan membedakan antara respon cepat darurat (seperti alat berat untuk jalan terperosok yang ditangani dalam hitungan jam) dan aduan sensitif seperti klaim lahan yang diselesaikan melalui verifikasi fakta (hearing) serta dialog terbuka bersama tokoh adat dan pemerintah desa.