Edukasi SainsLingkungan & Biodiversitas

Tata Kelola Air: Keseimbangan Gambut, Masa Depan Hutan

Tata kelola air

Pelajari bagaimana PT Mayawana Persada mengelola tata air gambut, revegetasi spesies endemik, dan perluasan kawasan konservasi untuk mencegah karhutla di Kalimantan.

PT Mayawana Persada mengelola tata air gambut, revegetasi spesies endemik, dan perluasan kawasan konservasi untuk mencegah karhutla serta mendukung cagar biosfer.


Di bentang lahan gambut, keberlanjutan ekosistem sangat ditentukan oleh keseimbangan tata air di bawah permukaan. Ketika muka air turun terlalu rendah, lahan gambut mengering dan rentan menjadi bahan bakar kebakaran yang meluas di bawah permukaan tanah. Sebaliknya, jika muka air terlalu tinggi, pertumbuhan vegetasi dapat terganggu. Menjaga keseimbangan hidrologi inilah yang menjadi fondasi utama dalam pemulihan kawasan gambut secara berkelanjutan.


Bagi PT Mayawana Persada, rehabilitasi gambut bukan sekadar kegiatan menanam pohon pada area terbuka. Melalui Dokumen Pemulihan Gambut, pemulihan kawasan dirancang secara menyeluruh, menghubungkan pengelolaan tata air, revegetasi spesies endemik, hingga perluasan zona konservasi sebagai satu kesatuan ekosistem.


Tata Kelola Air: Menjaga Kelembapan untuk Mencegah Karhutla

Kunci utama keberhasilan restorasi gambut terletak pada keandalan pengelolaan hidrologi. Asisten Kepala (Askep) Environment PT Mayawana Persada, Agus Trijoko, menjelaskan bahwa pengaturan tinggi muka air dilakukan secara harian untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


"Secara internal, perusahaan menjaga tinggi muka air di kisaran 40 sentimeter untuk memastikan kondisi lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman," terangnya. Pada musim kemarau, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam konsesi. Langkah preventif ini krusial mengingat karakteristik kebakaran gambut yang dapat menjalar di bawah permukaan (smoldering) sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan jika lahan telanjur kering.


Revegetasi Berbasis Spesies Endemik

Pengelolaan tata air berjalan sejajar dengan program revegetasi pada area dengan kerapatan tutupan yang rendah. Bibit yang digunakan diprioritaskan berasal dari spesies pohon hutan endemik agar memiliki daya adaptasi tinggi terhadap asamnya lahan gambut.


Asisten Sustainability, Charia Salasari, menyampaikan bahwa seluruh tahapan revegetasi mengacu pada standar operasional yang ketat:


  • Persemaian Khusus (Revegetation Nursery): Bibit diproduksi di nursery internal yang ditempatkan langsung di kawasan hutan agar tanaman menjalani proses adaptasi lingkungan sebelum ditanam.

  • Standar Penanaman: Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 5x5 meter, dilengkapi pemetaan titik tanam dan plot sampel monitoring yang terintegrasi.

  • Evaluasi Pertumbuhan: Evaluasi tinggi dan diameter tanaman dilakukan berkala setiap enam bulan. Saat ini, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi telah mencapai sekitar 80 persen.

Penguatan Kawasan Konservasi dan Cagar Biosfer

Selain memulihkan area yang terdegradasi, perusahaan memperkuat perlindungan bentang alam melalui rencana peningkatan luas kawasan konservasi dari 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU).


Asisten Kepala (Askep) Sustainability, Muharjan, menjelaskan bahwa perluasan ini diselaraskan dengan kebijakan cagar biosfer dan kerja sama lintas pemangku kepentingan melalui Working Group. Kolaborasi ini berfokus pada penguatan pengelolaan lanskap, pencegahan karhutla regional, serta perlindungan koridor satwa liar.


Kawasan konservasi yang memiliki tutupan kanopi rapat terbukti menjadi habitat aman bagi populasi orangutan dan satwa endemik lainnya. Pada saat yang sama, ekosistem gambut yang pulih dan terjaga memberikan manfaat jangka panjang bagi warga desa sekitar yang masih menggantungkan kebutuhan hidupnya pada kelestarian hutan.


FAQ

Bagaimana PT Mayawana Persada memulihkan dan menjaga ekosistem gambut?

Pemulihan ekosistem gambut dilakukan secara terpadu melalui tiga pilar: pengaturan tinggi muka air harian (sekitar 40 cm) melalui sistem pintu kanal untuk mencegah karhutla dan menjaga kelembapan; revegetasi spesies pohon endemik dengan tingkat keberhasilan 80%; serta penguatan kawasan konservasi dari 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare yang terintegrasi dengan cagar biosfer dan habitat orangutan.